Kembali

Negosiasi di Ambang Langit

Negosiasi di Ambang Langit

Pernahkah kita merasa lelah untuk mengetuk langit? Saat jemari jiwa kita sudah lebam dan terluka karena terus memukul pintu yang tak kunjung terbuka, dan ada kalanya suara kita sudah semakin parau karena menceritakan keresahan yang itu-itu saja. Kita sering kali datang membawa beban kita sendiri, menuntut waktu “secepat mungkin”. Dan kita lupa, bahwa yang kita sebut sebagai penundaan, mungkin adalah cara Pencipta menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum sanggup kita pikul.

Ada saatnya dimana keraguan menyelinap: Apakah doa ini benar-benar terdengar? Ataukah ia hanya memantul di langit-langit kamar yang sepi?

Di dalam relung hati yang paling dalam, kita sering kali menjadi negosiator yang gigih. Kita mencoba berbagai cara untuk menawar garis takdir, mencari celah untuk mengubah apa yang sudah digariskan, berharap ada pengecualian untuk luka yang sedang kita rasa. Namun, di balik semua upaya tawar-menawar itu, sebenarnya itu menjadi alasan kita tetap melangkah. Melangkah maju, dan mungkin beberapa waktu terhenti, kemudian ragu dan memutuskan melangkah lagi.

Jika bukan karena bisikan halus dari-Nya yang mengatakan bahwa kita tidak sendirian, aku rasa diri ini dari awal sudah menyerah. Dan tidakkah ada yang lebih indah daripada menyadari bahwa pendengar terbaik dari segala gaduhmu adalah Dia? Saat dunia menuntutmu untuk bicara dengan logika, Dia menerimamu dengan air mata.