Jika ditanya apa bentuk cintaku yang paling nyata, jawabannya adalah mendoakanmu. Sebab doa adalah satu-satunya wilayah di mana aku tidak perlu izinmu untuk menyayangimu. Jika ragaku tidak bisa menyentuhmu, maka biarkan doaku yang menjadi saksi bahwa pernah ada seseorang yang menitipkan namamu kepada langit, saat kau bahkan mungkin sudah lupa cara mengeja namaku.
Aku tahu, tidak ada jaminan bahwa namamu yang kukirim ke langit akan kembali padaku. Aku pun sadar, mungkin namaku tak pernah sedetik pun mampir dalam percakapanmu dengan Tuhan. Tapi, apa salahnya mencoba?
Aku tidak menuntut namaku disebut dalam sujudmu, karena aku tahu, setiap hati punya beban dan doanya sendiri. Jika kamu tidak mengingatku, itu hakmu. Jika kau bahagia bersama yang lain, doaku tetap akan ada di sana, meminta agar tak ada duri yang menusuk langkahmu.
Mungkin, mendoakanmu adalah caraku mencintaimu tanpa harus memilikimu. Dan tentang berapa lama aku akan bertahan? Aku tidak tahu. Mungkin suatu hari nanti, saat hatiku sudah cukup lelah dan semesta sudah memberiku jawaban yang lain, namamu akan perlahan memudar dari bait-bait doaku. Atau mungkin, namamu memang takdir untuk menetap di sana, sebagai satu-satunya doa yang tidak pernah menemukan titik akhir, hingga akhirnya aku sendiri yang berakhir di dalam doa itu.