Cermin ini masih sama, retak tipis di sudut kiri bawah, merekam wajahku yang pucat di pukul lampu pijar. Pukul empat pagi, dunia di luar jendela sedang menahan napas, namun di dalam kepalaku suara-suara itu justru sedang berteriak paling kencang.
Aku menatap mataku sendiri dalam pantulan.
"kau tahu kau harus melakukannya." bisikku pada bayangan itu. Suaraku parau, pecah seperti keramik yang kau jatuhkan dulu tanpa rasa bersalah.
Dulu, kau adalah sihir, sebuah mantra yang membuatku percaya menunggu kata-kata manismu adalah mantra yang tak boleh putus. Tapi keajaiban itu berubah menjadi kerusakan permanen. Kau tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kau lalui; kau hanya tahu cara melepaskan saat segalanya tidak lagi sesuai dengan maumu.
Aku ingat bagaimana aku selalu berdiri di ambang pintu, menunggu suasana hatimu berubah. "kenapa kau diam saja?" tanyaku suatu malam, mencoba mencari celah di dinding es yang kau bangun. "Bukan urusanmu," jawabmu singkat, tanpa menoleh, seolah kehadiranku hanyalah perabot yang mengganggu pemandanganmu.
Aku adalah pelari yang tak pernah menginginkan lintasan. Namun, mencintaimu adalah labirin yang dindingnya terus menyempit dan satu-satunya cara untuk bernapas adalah dengan mendobrak keluar Melarikan diri darimu adalah hal paling berani yang pernah aku lakukan, Sebuah tindakan heroik untuk menyelamatkan sisa-sisa diriku yang belum kau hancurkan.
Terkadang, di tengah malam yang sunyi seperti ini, aku masih bisa merasakan kehadiranmu di sudut kamar. Bukan karena aku ingin kau kembali, tapi karena aku merindukan sosok yang seharusnya kau perankan.
Aku tahu alasan kita berpisah setelah melihat garis-garis di telapak tanganku. Aku lebih baik sendirian daripada terus-menerus membutuhkan pria yang bisa berubah pikiran dalam hitungan menit- pria yang membuatku menggantungkan harga diriku pada setiap tindakan ceroboh yang kau lakukan.
"Aku hanya berharap kau menjadi pria yang lebih baik," gumamku pada ruang kosong di sebelahku.
Kini, aku berdiri di sini, sendiri. Pukul empat pagi memang waktu yang paling jujur. Aku tahu aku lebih baik tanpamu, dan kau juga lebih baik tanpa kehadiranku. Meski sihir masa lalu itu terkadang masih menggoda untuk diingat. Tapi hari ini, cermin ini menjadi saksi bahwa aku sudah cukup kuat untuk tidak lagi menunggumu berubah.