Nala:
Media sosial adalah rimba yang luas, namun entah bagaimana, jemariku berhenti pada satu unggahanmu yang lewat di lini masa tanpa sengaja. Sebuah komentar ringan, sebuah tawa yang tertulis, dan secara tiba-tiba kau bukan lagi sekedar nama asing di layar ponselku, Bumi. Kita adalah dua orang yang dipertemukan oleh algoritma, namun dipersatukan oleh rasa yang tidak punya titik koordinat. Bagiku, pagi dimulai saat layarku menyala dengan namamu, "Selamat pagi, Nala", ribuan kilometer di antara kita terasa hanya seperti sehelai kertas yang bisa kulipat dengan doa. Bumi:
Bumi:
Aku tidak pernah berencana jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kusentuk lewat layar kaca, Nala. Namun, setiap kali aku menempuh hari yang melelahkan, notifikasi darimu adalah satu-satunya navigasi yang kubutuhkan dan membuat senyumku merekah tanpa aku sadari. Jarak ini sering kali terasa kejam, terutama saat aku ingin menggenggam tanganmu ketika aku merasa remuk oleh lelah. Namun, rayuan kecilmu lewat pesan suara selalu berhasil menjinakkan bisingnya kota metropolitan ini. Saat aku menanyakan, "kapan kau bangun untuk mengawali harimu?" "jam setengah enam pagi, mungkin?". Aku memutuskan untuk menjadi alarm pagimu setiap hari dengan mengirimkan pesan singkat "selamat pagi, Nala"
Sejak saat itu, malam selalu menjadi milik kita, waktu di mana kita saling bertukar cerita hingga kantuk menjemput jiwa kita berdua. "Nala" ucapku di depan layar smartphoneku. "Bayangkan sepuluh tahun dari sekakrang. Apakah kita masih harus menghitung hari di kalender hanya untuk bertemu satu kali?"
"Tidak, Bumi. Bayangkan sepuluh tahun lagi, kita mungkin akan punya kebun kecil di belakang rumah yang sering kita bicarakan. aku tidak akan lagi menyapamu lewat layar, tetapi mungkin lewat aroma kopi yang kubuatkan di dapur, jadi kau tidak perlu membeli stok kopi brand kesukaanmu itu di kulkas, dan mungkin kau juga akan selalu menyicipi eksperimen masakan yang aku buat tiap hari"
aku tersenyum dalam kantukku. Melihat masa depan bersamamu tidak lagi terasa seperti menatap ufuk yang tak tercapai. Bersamamu, masa depan bukan lagi teka-teki tentang sinyal dan kuota, melainkan sebuah rumah yang jendelanya selalu terbuka lebar, tempat di mana jarak akhirnya menyerah pada kita.